Oleh: Jerry Gogapasha
Aku pulang! 57 langkah, masuk kamar dengan sumber tenaga yang terkuras oleh racun DP.
Tom, tersenyum melihat keadaanku. Aku tertidur.
Ventriloquism yang berarti seni bicara dengan perut adalah seni klasik yang tergolong unik. Luar biasa uniknya sampai aku terpikat oleh seni ini.
Awalnya, aku melihat permainan ini di TVRI (TV nasional hanya itu satu-satunya). Ventriloquist (pemain boneka) dengan lihai membuatku terpanah, mungkin bila aku bayangkan keadaan diriku waktu itu, seperti seorang anak yang melihat aksi permainan boneka di layar tv dengan bibir terbuka, cairan ludah yang tumpah dari lubang mulutnya tak terbendung, dan merasakan sensasi hiburan luar biasa, hingga dia terinspirasi kuat bahwa hidupnya nanti akan diabdikan pada sebuah profesi, yaitu sebagai pemain boneka. Pemain boneka?, ya, bukan presiden atau dokter, cita-citaku adalah pemain boneka.
Masa itu aku masih berumur 5 tahun. Kronologis waktu itu aku berhasil korek dari ayahku. Kebetulan beliau juga menonton acara itu. Bahkan dia juga sempat melihat reaksiku (fisiologisku berubah drastis) ; dari yang anak yang sering kesetanan; lompat-lompat tak ada arah, teriak keras ala buruh yang menuntut haknya, ataupun seperti tupai yang bermain dalam miniatur komedi putar yang tak pernah henti berlari-lari. Kata ayahku, setelah acara ventriloquism itu selesai, umurku berubah total! (lebih tua, tepatnya) tidak selayaknya anak berumur 5 tahun. Aku lebih sering termenung, melamun, terkadang mengeluarkan suara-suara aneh dari tenggorokanku. Mungkin, itu suara boneka pertamaku.
7 tahun telah belalu…
Ketika menginjak SMP, ada teman sulap (mr. Cahyo) yang berbaik hati…. selanjutnya…