Demam Sulap (The Master)

Meledaknya The Master sebagai acara unggulan reality show telah memukul telak para skeptic sulap. Dimana-mana kata “Joe Sandy dan Limbad” selalu berdendang di setiap mulut para awam. Para pembenci sulap (yang hanya melihat sulap sebelah mata) sekarang, mulai bergeser perspektif nya ke arah positif. Mereka selalu menanyakan perihal sulap hingga ke dalam poin-poin penting, misalnya: “Apakah sulap itu asli sebuah ilmu, indera ke enam, kekuatan supranatural, hingga masalah rahasia (awam menebak-nebak) adanya campur tangan IT dalam aksi para pesulap the Master.

Apapun persepsi dan misteri awam, seni sulap sekarang berada di atas angin. Contoh misal: setiap kali saya show, awam tidak lagi menilai penampilan kita sebagai “tukang” sulap, melainkan jauh dari,  kita dipandang seperti orang super, satu atau dua tingkat di atas awam sendiri

Sensasi sulap saat ini berdiri tegak, berkibar, menyuarakan bahwa; sulap adalah unsur seni yang telah menelan pengorbanan, waktu, materi, pikiran, bahkan nyawa (Lihat The Master sesi I). Tidak dapat dipungkiri, bahwa acara ini telah menuang sukses! Mengangkat derajat sulap ke level seni tingkat tinggi.

Jadi, tidak pantas jika kita tidak mengucapkan terima kasih kepada Deddy dan Romy atas suksesnya konsep the master ini. Mereka memboster seni ini, meningkatkan persepsi orang awam atas seni kita.

Sekarang, Bagaimana menurut pendapat anda?

Sekilas Sejarah Sulap

Setiap momen yang hebat menawan dalam sejarah dunia adalah kemenangan dari antusiasme (Ralph Waldo Emerson)

Pesulap masih termasuk dalam “habitat” seniman. Mengimplementasikan unsur seni dalam setiap aksinya. Seni berbicara, panggung, gerak, mimik, serta seni mempengaruhi orang lain (teknik misdirection direction).

handart1handart2

handart6 handart7 Seni secara harafiah melib atkan unsur rasa,  inspirasi, imajinasi, fell, dll. Ihwal yang bertautan erat dengan rasa atau perasaan terhadap “sesuatu”. Sesuatu dapat diartikan dalam: bentuk,yang mengilhami pada perupa dan pemahat; suara pada vokalis; gerak pada penari.

Dalam seni sulap, kita seyogianya mengombinasikan semua unsur-unsur seni di atas (“sesuatu”) kemudian membungkusnya rapi dengan apa yang dinamakan “tipuan cantik.” Tipuan yang benar-benar memperdayakan manusia, menariknya masuk dalam dimensi fantasi dan mimpi mereka.

Seperi yang kita tahu bahwa fantasi manusialah yang membuat seni sulap itu bernafas; ingin terbang,  pada aksi ilusionis David Cooperfield yang mencengangkan kita; manusia ingin berjalan di atas air, Chris Angels mewujudkannya dalam aksinya horornya, yang juga pernah diperagakan oleh Deddy Coorbuzier di salah satu stasiun TV nasional. Mendatang arwah, Sucahyo berhasil menundang “arwah” dengan spirit shownya.

Nah, pembaca yang budiman. Seperti yang kita bahas bahwa imajinasi, fantasi, dan mimpi tersebut terjadi jika ada proses berpikir. Sedangkan manusia sudah dapat berpikir sejak ribuan bahkan mungkin jutaan tahun yang lalu. Dan pada masa-masa itu manusia telah bermain-main dengan imajinasi, fantasi, kilatan mimpi. Seperti yang kita lihat pada peninggalan bekas riual-ritual berhala mereka; saya menyebutnya tipuan kotor. Jaman purbakala, jaman Yunani dan Roma kuno, dukun-dukun mempergunakan sulap untuk menciptakan efek-efek khusus, dalam upacara-upacara kepercayaan mereka. Misalnya: pintu yang terbuka sendiri, nyala api yang tiba-tiba muncul, air yang keluar dari bejana kosong dll.

720px-Hieronymus_Bosch_051Kemudian sejak ditemukan tipuan-tipuan bersih, tipuan yang teramu dengan unsur-unsur seni, maka sulap berevolusi ke jaman tipuan sebagai sihir. Dan telah tertulis dalam gulungan kulit, bahwa di Mesir, sekitar 2600 BC (before Christ lahir) ada seorang pesulap bernama Dedi, telah melakukan pertunjukan di depan raja Cheops.

Sedangkan di waktu dan tempat yang lain, pada abad permulaan, seorang Romawi bernama Senecca menulis tentang pesulap yang bermain Cups and Balls, sulap klasik yang tidak hengkang oleh waktu.

Masa-masa Terburuk bagi  Pesulap

Eropa, pada abad pertengahan, sulap di salah persepsikan sebagai ilmu sihir tipuan-tipuan kotor sehingga banyak pesulap yang dipancung kepalanya. Pada tahun 1584, Reginald Scot, seorang Inggris menulis buku “The Discoverie of Witchcraft” yang menjelaskan tentang sleight of hand  dan tipuan-tipuan (tricks) serta metode-metode yang pernah digunakan dalam pertunjukkan sulap waktu itu, dimana tulisan-tulisannya membongkar paradigma bahwa sulap bukanlah sebuah ritual pemujaan, mengundang kuasa-kuasa gelap, ataupun setan-iblis.

(bersambung)